Logo Yayasan Sasmito Adi Yayasan Sasmito AdiSejak 2000

Beranda › Berita & Artikel › SD S Sekar Adi

SD S Sekar Adi

Masa depan tidak datang, ia dituliskan

Oleh Ibnu Rusydi Tukan, S.S. (el.floresta)3 menit baca
STS Matematika, 5B
STS Matematika, 5B

Di sebuah ruang kelas yang penuh cerita, seorang anak menundukkan kepala di atas selembar kertas. Tangannya menggenggam pensil, menorehkan kata demi kata. Barangkali bagi sebagian orang, pemandangan itu hanyalah rutinitas seorang siswa mengerjakan tugas, sementara waktu berjalan sebagaimana mestinya. Namun, jika kita memandangnya lebih lama, ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang berlangsung. Sebuah masa depan sedang dituliskan.

Masa depan sering kali kita bayangkan sebagai sesuatu yang jauh seperti sebuah tempat yang akan kita datangi setelah menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, atau mencapai cita-cita. Kita menunggu masa depan seolah-olah ia adalah sesuatu yang kelak datang mengetuk pintu kehidupan. Padahal, sesungguhnya masa depan tidak pernah benar-benar datang dengan sendirinya. Ia dibentuk oleh apa yang kita lakukan hari ini.

Setiap halaman yang dibaca, setiap tugas yang diselesaikan, setiap kegagalan yang diterima, bahkan setiap kali seseorang memilih untuk bangkit setelah merasa lelah, semuanya adalah bagian dari proses menulis masa depan. Tidak ada tinta yang benar-benar sia-sia dalam perjalanan hidup kita. Bahkan kesalahan sekalipun dapat menjadi petuah yang mengajarkan kita bagaimana melanjutkan cerita.

Itulah tugas pendidikan. Karenanya, seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban untuk memperoleh ijazah. Pendidikan justru proses panjang untuk membentuk manusia. Di dalam ruang-ruang kelas, seorang anak tidak sekadar belajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan lainnya. Namun anak juga belajar menerima kesalahan, dan perlahan belajar mengenal dirinya sendiri.

Namun, di tengah dunia yang semakin cepat, kita terkadang lupa bahwa proses membutuhkan waktu, waktu yang panjang. Kita ingin melihat hasil tanpa menghargai perjalanan. Kita ingin anak-anak segera berprestasi tanpa bertanya apakah mereka menikmati proses belajar. Kita sering kali mengukur keberhasilan melalui angka, peringkat, dan pencapaian, seakan-akan masa depan seseorang dapat diringkas hanya dengan berpatok pada nilai di atas kertas. Padahal hidup jauh lebih luas daripada sekadar deretan angka.

Ada anak yang mungkin tidak selalu menjadi juara kelas, tetapi memiliki keberanian untuk mencoba. Ada yang tidak cepat memahami pelajaran, tetapi tidak berhenti berusaha. Ada pula yang diam di dalam kelas, namun menyimpan cita-cita yang begitu besar. Mereka semua sedang menulis. Hanya saja, setiap orang memiliki halaman dan waktu yang berbeda.

Foto seorang anak yang sedang belajar mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana: “masa depan selalu bermula dari hal-hal kecil” yang sering kali kita tidak sadari. Sebuah pensil yang bergerak menggoreskan tinta demi tintanya di atas kertas mungkin tampak biasa. Namun di balik itu terdapat kemungkinan yang tak terhitung. Bisa jadi, tangan kecil itu kelak menulis buku, merancang bangunan, merumuskan kebajikan, mengajar generasi berikutnya atau sekadar menjadi manusia yang mampu memberikan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.

Karena itu, tugas kita bukan hanya, anak ini akan menjadi apa? “tetapi juga”, “apa yang perlu kita lakukan agar ia memiliki kesempatan untuk menjadi siapapun yang ia cita-citakan?”

Sebab masa depan anak tidak hanya ditulis oleh tangannya sendiri. Ia juga ditulis oleh keluarga yang mendukungnya, guru yang membimbingnya, lingkungan yang membentuknya, serta masyarakat yang memberi ruang tumbuh untuknya.

Pada akhirnya, mungkin kita semua adalah penulis bagi kehidupan masing-masing. Tidak melulu dengan pena, tetapi bisa juga melalui pilihan-pilihan kecil yang kita ambil setiap hari. Kita menulis dengan waktu, dengan keberanian, dengan kegagalan, dengan kesabaran, dan dengan harapan.

Hari ini mungkin hanya selembar kertas. Besok, ia bisa menjadi sebuah cerita. Maka jangan terlalu sibuk menunggu masa depan. Karena masa depan tidak datang. Ia dituliskan perlahan, satu hari satu langkah, satu pilihan pada satu waktu.